Jadi Penulis Novel? Emang Bisa? — Ohayou, Minasan …. Gimana kabarnya pagi ini? Udah sarapan belum, nih? Sambil nunggu tukang bubur ayam lewat, boleh banget baca artikel receh di bawah ini, ya^^
Belakangan, booming penulis novel platform yang flexing penghasilan mereka di sosial media. Nggak sedikit yang tadinya antipati sama novel platform, jadi bertanya-tanya ...
Siapa aja, entah tua atau muda, bocah atau orang tua, laki-laki, perempuan atau di antara keduanya. Eh, bercyandaa yaa. Intinya, semua bisa jadi penulis novel, kok. Syarat utamanya cuma satu: BISA BACA TULIS!
Eits, sebelum kita bahas lebih lanjut, minasan tahu nggak sih novel itu apa?
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), novel adalah karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Yah, singkatnya novel itu rangkaian cerita kehidupan. Bisa fiksi atau karangan belaka, bisa juga non-fiksi atau cerita-cerita yang diangkat dari kisah nyata. Yang pasti, itu bacaan yang cukup panjang dan kalau dibukukan sampai puluhan atau bahkan ratusan halaman.
Seperti yang sudah disinggung di atas, semua orang bisa jadi penulis novel. Entah menceritakan imajinasi yang ada di kepala dia atau ambil kisah tetangga-tetangga yang julid. Sabi, tuh!
Tapi, Kak. Aku gak punya laptop buat nulis ….
Siapa bilang jadi penulis novel harus punya laptop? Nggak, kok. Bahkan, kalian bisa nulis di buku. Mau pakai pensil atau pena, semua bisa.
Jadul banget. Nulis kok di buku?!
Nah, belakangan ini perkembangan teknologi semakin pesat. Dari bocil sampai aki-nini, semua punya ponsel. Kita bisa juga nulis dari ponsel, Minasan. Apalagi, tren baca novel berubah dari yang awalnya harus beli buku atau pinjam di perpustakaan, sekarang semua bisa dibaca cuma dari ponsel karena adanya platform novel yang semakin menjamur. Satu yang paling penting, ada niat buat jadi penulis. Itu kunci utamanya.
Langkah kedua buat jadi penulis novel adalah rajin baca. Kenapa? Karena semakin banyak buku yang kita baca, semakin kaya dan beragam pilihan kata yang bisa kita tuliskan nantinya. Entah itu baca buku fisik atau e-book, semua sama manfaatnya. Cuma beda bentuk medianya.
Langkah ketiga, cintai tulisan kita. Entah sehancur atau seamburadul apa pun tulisan kita, itu adalah buah pikiran yang harus kita cintai. Nggak peduli susunan kalimat atau tanda bacanya yang belum genap sekalipun, itu tetap ‘anak’ kita. Kekurangan bisa kita perbaiki dengan belajar. Pokoknya, tulis aja dulu!
Last but not least—yang terakhir tapi nggak kalah pentingnya, tanyakan ke diri kita tujuan nulis novel buat apa? Apa cuma mau having fun atau punya tujuan pengen dapat uang?
Kalau minasan pilih jawaban pertama, itu artinya nggak masalah kalau novel minasan nggak dipublikasikan atau diposting di platform gratis tanpa kontrak kaya wattpad. Tapi kalau tujuannya supaya dapat uang, minasan bisa coba-coba gabung di platform berbayar yang akan kita bahas di artikel berikutnya.
Ada yang penasaran?
See you, yaa ^^
—written by: Hanazawa—


.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar